Jikalau aku bisa memutar balik waktu, maka…
Published:

“Jikalau aku bisa memutar balik waktu, maka aku akan tetap memilihmu berapa kali pun aku mengulangnya. Walaupun aku tahu akhirnya akan seperti ini.”
Kalimat itu merupakan kalimat yang aku ucapkan setahun lalu dan aku tidak menyesal pernah mengatakannya. Benar. Bagi pihak yang menyadari. Iya. Artikel ini ditujukan untuk 30 September 2021. Tepat lima tahun lalu.
Memang, atas alasan apa aku tidak ingin mengubah masa laluku?
Bukan karena dia, bukan karena siapa-siapa, melainkan karena aku.
Seandainya suatu saat ada mesin waktu, hal yang akan aku lakukan adalah memastikan bahwa aku membicarakan berbagai hal dengan baik bersama mendiang ayahku. Itu saja. Sebagaimana ibuku tahu aku sedang dalam masa-masa terbaik hidupku, aku ingin ayahku juga tahu. Sayang sekali ayahku tidak bisa melihat langsung pencapaian hidupku dan adikku.
Seandainya aku bisa melakukannya. Akan tetapi, apakah aku akan kembali untuk memperbaiki kesalahanku?
Akankah aku memberi tahu diriku di tahun 2020 perihal solusi lengkap OSN 2020 sehingga aku menjadi medalis, tetapi aku akan mengubah jalan hidupku yang menjadi absolute winner ONMIPA 2023, lulusan terbaik UGM, dan saat ini di tahun keduanya hidup di Eropa daratan?
Akankah aku menahan diriku memulai apa yang aku mulai 5 tahun lalu, yang membuatku belajar untuk menumbuhkan empati, yang mengubah diriku menjadi seseorang yang lebih mahir dalam mengungkapkan perasaannya, yang mengubah diriku menjadi penulis artikel ini?
Akankah aku… ya, apalah itu. Sepertinya terlalu banyak masa laluku yang sebenarnya ingin aku perbaiki, dan itu sangat melelahkan.
Tidak. Aku tidak akan dan tidak ingin melakukannya.
Apa jaminan memperbaiki masa laluku akan memperbaiki hidupku saat ini?
Apa jaminan memperbaiki masa laluku akan mengubah takdir yang sudah ditentukan untukku?
Pada akhirnya, aku mempelajari bahwa masa laluku hanyalah satu fase dalam hidupku, satu fase dari ribuan fase yang telah menjadikanku seperti saat ini. Aku yang aku percaya telah menjadi lebih baik.
Aku sadar. Aku telah membuat banyak kesalahan. Aku telah menyakiti orang lain.
Akan tetapi, semua itu adalah pilihanku. Kembali lagi, aku tidak akan mengubah segala hal yang terjadi di masa laluku.
Dari beberapa tulisan yang telah kubaca pun, aku menyadari bahwa hidupku di masa lalu telah berakhir dan akulah aku. Aku mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang telah terlibat dan yang telah membentukku hari ini.
Aku pernah mencintaimu, tetapi kini? Aku sudah terlalu lelah memikirkannya. Walaupun begitu, aku tetap berterima kasih atas segala yang pernah kau ajarkan untuk aku. Aku lelah menjadi terpuruk hingga pada akhirnya aku ingin hidup kembali.
Hal yang tidak membuatku lelah ternyata sesederhana mengucapkan, “aku mencintaimu,” yang aku peruntukkan untuk diriku di masa lalu, diriku di masa kini, dan diriku di masa depan. Aku mencintai keberhasilanku. Aku mencintai kegagalanku. Harapannya.1
Catatan Redaksi: Penyuntingan redaksi bahasa pada draf artikel ini dibantu oleh Gemini Pro 3.1 untuk memastikan kesesuaian dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia (EYD) karena penulis sadar dia payah dalam hal ini. ↩


TL;DR: I’ve spent years feeling like a fraud in mathematics, attributing my successes to luck or “easy” problems. But after reflecting on my rigorous Master’s at UNIPD, I realized the truth: I’m not a genius, I’m just a relentless learner. The exams didn’t get easier—I just got stronger.
A personal rant on the isolation of academic pursuit and the price of ambition. An honest reflection of a big dream: perjuangan S2 di UNIPD, kesepian di tengah prestasi, dan realita ‘berproses’ sendirian di usia 20an.